Home » Dari Terpaksa Jadi Jatuh Cinta, Yuk Berkenalan dengan “Ketangguhan” Maria Christa Bella dari SMP Santa Theresia

Dari Terpaksa Jadi Jatuh Cinta, Yuk Berkenalan dengan “Ketangguhan” Maria Christa Bella dari SMP Santa Theresia

oleh Marcelina Sandra

Pangkalpinang, YTKNews. id  — Maria Christa Bella, gadis kelahiran Pangkal Pinang, 2 Juli 2011 ini kembali membuktikan ketangguhannya dalam bidang Taekwondo dengan menyabet Juara 1 pada ajang Kejuaraan Taekwondo kategori Kyorugi yang diselenggarakan oleh Central Taekwondo Training Centre (CTTC) tahun ini.

Ajang tersebut melengkapi rekam jejak emasnya di dunia seni bela diri Taekwondo. Sebelumnya, Mariani juga telah sukses memborong berbagai gelar bergengsi, seperti Juara 1 Kejuaraan Taekwondo Piala Danrem 045 (2024), Juara 1 Kejuaraan Taekwondo Kota Pangkal Pinang (2024), serta Juara 3 Festival Taekwondo CTTC-ICC Inter Club Series 2 (2023).

Kisah awal Mariani terjun ke dunia Taekwondo terbilang unik. Jika banyak atlet memulai karena keinginan sendiri, Mariani justru memulainya karena dorongan kuat bahkan paksaan dari orang tuanya.

“Ketertarikan awal saya muncul setelah dipaksa orang tua untuk mencoba. Namun, lama-kelamaan saya mulai tertarik melihat olahraga bela diri ini yang ternyata menyenangkan,” kenang Mariani.

Seiring berjalannya waktu, proses latihan yang konsisten dan keras justru menumbuhkan rasa cintanya pada seni bela diri ini. Pengalaman demi pengalaman mengajarkannya tentang kedisiplinan, pengendalian diri, hingga kuatnya rasa kebersamaan dengan teman-teman satu dojang (tempat latihan).

Bagi Mariani, pencapaian Juara 1 yang diraihnya hingga saat ini adalah kejutan manis yang sangat disyukurinya. Namun, di balik piala dan medali emas, ada rutinitas latihan keras yang harus ia jalani dengan konsisten. Fokus latihannya mencakup teknik dasar, kekuatan fisik, kecepatan, kelincahan, hingga latihan mental agar tetap tenang di bawah tekanan pertandingan.

Tantangan terberat yang sering ia rasakan adalah rasa lelah yang berlebihan, terutama di bagian kaki, serta beban mental saat harus membagi waktu latihan Taekwondo dengan kewajiban sekolah.

“Ada momen ketika latihan terasa sangat berat dan hasil belum sesuai harapan, sehingga sempat muncul rasa ingin menyerah. Namun, saya mencoba mengingat kembali tujuan awal saya memulai dan ingin membuktikan bahwa saya bisa bertahan dan berkembang,” jelasnya.

Untuk bisa berada di titik ini, Mariani harus rela mengorbankan waktu bermain dan bersantai bersama teman-teman remajanya. Ia pun mau tidak mau menerapkan disiplin waktu yang ketat, seperti menyelesaikan tugas sekolah lebih awal agar tidak menumpuk saat jadwal latihan sedang padat.

Di tengah kerasnya latihan bela diri dan tuntutan akademik yang mesti dipenuhi, sosok sang Ibu menjadi pilar utama dalam menjaga semangat yang ada dalam diri Mariani.

“Orang tua, terutama Mama, adalah sosok yang sangat berjasa dalam hidup saya. Beliaulah yang memberi motivasi untuk terus berjuang, menyemangati saat saya mau menyerah, dan selalu ada di saat saya sedang susah maupun senang,” ungkapnya penuh syukur.

Untuk melepas stres (healing), Mariani memilih mengisi waktu senggangnya untuk mewarnai, menggambar, mendengarkan musik santai, atau bermain bola basket.

Dengan target untuk terus berkompetisi di tingkat yang lebih tinggi dan menjaga keseimbangan prestasi akademiknya, Mariani berpesan kepada dirinya sendiri dan teman-teman seusianya.

“Jangan takut gagal. Gagal itu adalah hal yang wajar dan bagian dari proses, jangan ditakuti. Kegagalan bukanlah akhir, melainkan proses menuju akhir yang lebih baik. Berusahalah hingga kamu mencapai apa yang kamu mau.” tutup Mariani penuh semangat.

 

Kontributor: Alexander

Anda mungkin juga suka