Pangkalpinang, YTKNews.id –Setiap anak adalah anugerah yang unik, namun tidak semua anak memiliki pola tumbuh kembang yang sama. Menyadari hal tersebut, ratusan guru PAUD, TK, hingga SD secara daring maupun luring dari sekolah-sekolah Katolik di wilayah Kepulauan Bangka Belitung dan Kepulauan Riau berkumpul di Auditorium SMK Tunas Karya pada Kamis, 9 April 2026.
Mereka hadir dalam sebuah seminar penting bertajuk “Pendidikan Inklusi: Membuka Hati untuk Anak Berkebutuhan Khusus”. Acara ini merupakan hasil kerja sama apik antara Majelis Pendidikan Katolik (MPK) Keuskupan Pangkalpinang dengan para mitra pendidikan.

Semangat Melayani Tanpa Membedakan
Acara dibuka secara resmi oleh Ketua MPK Keuskupan Pangkalpinang, RD. Servasius Samuel, S.Psi., M.Psi., Psikolog. Dalam sambutannya, Romo menekankan bahwa sekolah Katolik harus menjadi rumah yang hangat bagi semua anak, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus.
“Pendidikan inklusi bukan hanya soal kurikulum, tapi soal kasih dan penerimaan. Kita ingin setiap guru punya bekal yang cukup untuk mendampingi anak-anak istimewa ini dengan cara yang tepat,” ujar Romo Servasius dengan penuh semangat.

Mengupas Tuntas Dunia ABK bersama Dr. Brigita
Hadir sebagai narasumber utama adalah pakar pendidikan inklusi, Dr. Brigita Puridawaty, M.Si., M.Pd. Beliau membawa materi yang sangat praktis dan membuka wawasan para peserta. Ada tiga poin kunci yang menjadi pusat perhatian:
- Faktor Penentu Tumbuh Kembang: Bagaimana pola asuh dan lingkungan sekolah bisa membantu anak berkembang maksimal.
- Mengenal Penyebab ABK: Penjelasan mendalam mengapa seorang anak bisa memiliki kondisi khusus (ABK), agar guru tidak salah dalam memberikan penilaian.
- Mengenali Ragam ABK: Memahami perbedaan mulai dari kesulitan belajar, autisme, hingga gangguan perilaku agar guru tahu “obat” yang pas untuk setiap siswa.
Dr. Brigita mengingatkan bahwa mengenali jenis kebutuhan khusus anak sejak dini sangatlah krusial. “Semakin cepat kita tahu, semakin cepat kita bisa membantu mereka meraih masa depan,” jelasnya.
Respon Positif dari Para Pendidik
Seminar yang berlangsung hangat ini mendapatkan apresiasi luar biasa dari para peserta. Salah satu guru yang hadir mengaku merasa sangat terbantu dengan materi yang disampaikan.

“Awalnya saya merasa cemas jika ada anak berkebutuhan khusus di kelas karena takut salah menangani. Tapi setelah mendengar penjelasan Dr. Brigita, saya jadi lebih paham. Ternyata mereka hanya butuh cara komunikasi yang sedikit berbeda. Seminar ini benar-benar mencerahkan,” ungkap Ibu Risna SD Santo Paulus 1, salah seorang guru sekolah Katolik yang hadir.
Langkah Nyata ke Depan
Melalui kegiatan ini, diharapkan sekolah-sekolah Katolik di bawah naungan Keuskupan Pangkalpinang—baik yang di Babel maupun Kepulauan Riau—semakin siap bertransformasi menjadi sekolah inklusi yang profesional dan penuh empati. Karena pada akhirnya, setiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang layak dan lingkungan yang mendukung impian mereka.
Kontributor : Ruth
